Selasa, 24 Juni 2014

MENGUAK RAHASIA MUHAMMADIYAH SELALU NAMPAK BEDA DENGAN NAHDLATUL ULAMA (NU)



KH. Ahmad Dahlan dan Kh. Hasyim Asy’ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli hadits dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan Islam menurut skil dan lingkungan masing-masing. Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari Kuto Ngayogyokarto. Sementara Kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia.

Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad mendirikan organisasi Muhammadiyah dan Kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu. Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain:

1.      Shalat Tarawih sama-sama 20 rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat Tarawih 20 rakaat di Masjid Syuhada Yogya.
2.      Talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan.
3.      Baca doa Qunut Shubuh.
4.      Sama-sama gemar membaca shalawat (Diba’an).
5.      Dua kali khutbah dalam shalat Ied, Iedul Fithri dan Iedul Adha.
6.      Tiga kali takbir, “Allah Akbar”, dalam takbiran.
7.      Kalimat iqamah (qad qamat ash-shalat) diulang dua kali.
8.      Dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.

Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitab Fiqih Muhammadiyah yang terdiri dari 3 jilid, yang diterbitkan oleh: Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343-an H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktek ibadah yang rupanya “harus beda” dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail (dalil-dalil), nanti difikir bareng dan dicari-carikan.

Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. Untuk ini, ada sebuah tesis yang meneliti hadits-hadits yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah: bahwa mayoritas hadits-hadits yang dipakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha’if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma’in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha’if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau fadhail al-a’mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktek ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih 8 plus 3 witir, bagaimana prakteknya?

Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi: 4, 4, 3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk Tarawih. Dan tiga rakaat untuk Witir. Model Witir tiga sekaligus ini versi madzhab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu Witir. Ini versi asy-Syafi’i.

Tapi pada tahun 1987, praktek shalat Tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH. Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di Masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadits dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadits Muslim lebih shahih ketimbang hadits empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan Majlis Tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushalla di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat Tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.

Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan Pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai Departemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu dipakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama menggunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai hadits rukyah dan ikmal.

Oleh karena itu, tahun 90-an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh Departemen Agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.

Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU.

Lalu membuat metode “wujud al-hilal”. Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadits yang dulu dielu-elukan, ayat al-Quran berisikan seruan “taat kepada Allah, RasulNya dan Ulil Amri” dibuang dan alergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera.

Populerkah metode “wujud al-hilal” dalam tradisi keilmuwan falak? Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupun sekarang.

Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah hilal harus derajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya takkan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja.

Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat?

Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain?

Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu’ atau teropong modern sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.

Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan Majlis Tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelemahan akademik pasti ada. (Diedit ulang dari tulisan Ustadz Sulaiman Timun Mas).

Sya’roni As-Samfuriy, Cikarang 25 Juni 2014

Label: ,

Senin, 16 Juni 2014

MANAQIB KH. R. MA’MUN NAWAWI, MAMA’ CIBOGO BEKASI





Ulama yang satu ini merupakan ulama yang produktif menulis. Tidak kurang hasil karya tulisnya sejumlah 63 kitab. Selain itu beliau juga menjadi penggerak pejuang kemerdekaan Indonesia bersama para santrinya, khususnya di tanah kelahirannya Bekasi.

a.      Masa Kelahiran

Beliau dilahirkan di Kampung Cibogo Bekasi pada hari Kamis bulan Jumadil Akhir 1334 H/1915 M. Ayahnya bernama KH. R. Anwar. Di usia 13 tahun beliau telah tamat sekolah dengan hasil diploma satu.

b.      Masa Belajar

Usia 15 tahun beliau melanjutkan studinya ke pesantren yang diasuh oleh Tugabus Bakri bin Seda (Mama Sempur) di Plered Sempur Bandung hingga 7 tahun. Setelah itu ia lanjutkan studinya ke Mekkah selama 2 tahun.

Selama di Mekkah beliau berguru pada lebih dari 13 muallif (pengarang kitab), diantaranya adalah al-Muhaddits as-Sayyid Alawi al-Maliki dan Mama KH. Mukhtar Athorid al-Bogori.

Sekembalinya dari Mekkah, saat itu usianya 24 tahun, beliau melanjutkan studinya atas saran sang ayah. Sebagai orang yang berilmu dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan Islam KH. Raden Anwar, sang ayah yang pernah menjadi murid KH. Hasyim Asy’ari, mengutus putranya itu untuk belajar agama lagi di pesantren. Berbagai pesantren pun disambanginya untuk digali ilmunya. Mulai dari Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, pesantrennya Syaikh Ihsan Jampes Kediri.

Setelah itu, beliau belajar lagi ke pesantren yang diasuh Syaikh KH. Manshur bin Abdul Hamid al-Batawi, pengarang kitab Sullam an-Nayirain, di Jembatan Lima, Jakarta. Kitab Sullam an-Nayirain berisi tentang ilmu falak. Oleh KH. Raden Ma’mun Nawawi kitab ini mampu dipelajari dan dikuasainya selama 40 hari saja.

c.       Mendirikan Pesantren

Setelah dianggap bisa dan memadai beradaptasi untuk mengembangkan dakwah Islamiyah, KH. Raden Ma’mun Nawawi diminta oleh mertuanya, Tubagus Bakri untuk mendirikan pesantren di Pandeglang, Banten. Saat itu usianya 25 tahun.

Namun, sekitar dua tahun kemudian beliau diminta oleh ayahnya, KH. Raden Anwar, untuk kembali ke kampung halaman di Cibogo Cibarusah untuk mendirikan pesantren. Atas biaya sang ayah, maka berdirilah Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat pada bulan Rajab tahun 1359 H/1938 M. Seluruh santri di Pesantren Pandeglang pun ikut gabung ke Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat ini.

Pada masa keemasannya, pesantren ini pernah menampung sekitar 1000 santri dalam satu angkatan. Bahkan, pesantren ini sempat terkenal sebagai Pesantren Ilmu Falak. Karena itu, ketika pemerintah Bekasi, Bogor, Jakarta dan sekitarnya membutuhkan masalah perhitungan falakiyah, selalu merujuk ke pesantren ini. Sekarang masalah falakiyah juga masih diajarkan di sini.

d.      Karya-karyanya

Beliau termasuk ulama yang produktif menulis. Selama hidupnya beliau pernah menulis nadzaman ilmu falak sebanyak 63 bait dan menghasilkan setidaknya 63 kitab. “Angka-angka ini seperti kebetulan saja,” ujar KH. R. Jamaluddin yang merupakan keturunan ke-11 dari Maulana Hasanuddin dan ke-24 dari Rasulullah Saw. ini. Diantara hasil karya tulisnya adalah:
1.      At-Taisir fi ‘Ilm al-Falak
2.      Bahjat al-Wudhuh
3.      Idha’ al-Mubhamat
4.      Hikayat al-Mutaqaddimin
5.      Manasik Haji
6.      Khutbah Jum’at
7.      Kasyf al-Humum wa al-Ghumum
8.      Majmu’at Da’wat
9.      Risalah Zakat
10.  Syair Qiyamat
11.  Risalah Syurb ad-Dukhan
12.  Dll.

Sebagian kitabnya dijual di Toko Arafat Bogor, seperti  Kasyf al-Humum wa al-Ghumum (tentang doa), Hikayat al-Mutaqaddimin (tentang kisah-kisah ulama dahulu), Idha’ al-Mubhamat (tentang rumus-rumus akumulasi dari kitab-kitab yang mengandung akronim) dan sebagainya.

e.       Pejuang Kemerdekaan

Pada masa perang kemerdekaan KH. R. Ma’mun Nawawi pernah mengadakan pelatihan militer santri Hizbullah di Cibarusah. Para santri itu kemudian dikirim ke Bekasi untuk menghadapi tentara sekutu secara frontal di bawah komandan yang juga teman seperjuangannya yang dikenal sebagai macan dari Bekasi, yaitu KH. Nur Ali.

f.       Laskar Hizbullah

Pemimpin perjuangan yang berlatih di camp Cibarusah saat itu, dimulai Pelatihan Perang  Pertama pada 28 Februari 1945, dipimpin beberapa tokoh seperti KH. Wahid Hasyim, yang mewakili ayahnya, KH. Hasyim ‘Asy’ari,  KH. Zainul Arifin, bersama sekitar 500 pemimpin Laskar Hizbullah Sabilillah, juga diantaranya ulama Bekasi KH. Noer Alie (yang telah diangerahkan sebagai pahlawan nasional) dan KH. R. Ma’mun Nawawi, Cibogo Cibarusah, Bintal Laskar Hizbullah pengasuh Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat Cibarusah. Usai pelatihan perang tersebut, 500 kader kembali ke desa-desa dan memberikan latihan kepada para pemuda sehingga pada saat Jepang menyerah, anggota Hizbullah berjumlah 50.000 orang.

Dalam catatan sejarah di saat latihan perdana, pada 28 Februari 1945, yang dihadiri oleh Gunseikan, para perwira Nippon, Pimpinan Pusat Masyumi, Pangreh Praja dan lainnya,   Guiseikan memberikan sambutannya: “Berhubung dengan nasib Asia Timur Raya, maka semasa sekarang adalah masa yang amat penting seperti yang belum pernah dialami atau terjadi di dalam sejarah. Dalam saat yang demikian itu,  telah bangkit segenap umat Islam di Jawa serta berjanji akan berjuang “luhur bersama dan lebur bersama”. Buktinya ialah pembentukan barisan muda Islam yang bernama Hizbulloh. Dengan demikian lahirlah tujuan untuk menghancurkan musuh yang dzalim dan perjuangan dengan segenap jiwa raga, maka saya sangat gembira  membuka latihan pusat barisan Hizbullah ini.”

Saat itu, di kamp militer Cibarusah, laskar tak murni berlatih soal perang. Di malam hari, mereka mengaji dengan ulama seperti KH. Mustafa Kamil dari Singaparna, Jawa Barat, dan belajar soal bahan peledak kepada KH. Abdul Halim. Setelah latihan tiga bulan, opsir Hizbullah dipulangkan untuk melatih milisi di daerah asal yang beranggotakan para santri.

Kuntowijoyo, pakar sejarah, melihat laskar bentukan KH. Wahid Hasyim ini mengubah peta militer di Indonesia. Tak terbayangkan sebelumnya santri bisa jadi petinggi tentara republik. “Hizbullah membuat santri yang tidak mengenal ilmu kemiliteran jadi bisa ikut aktif dalam revolusi fisik,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan majalah Tebuireng.

Setelah Partai Masyumi berdiri pada 7 November 1945, Hizbullah, juga laskar Sabilillah, masuk jadi sayap militer partai Islam saat itu. Kedua laskar ini ikut bertempur melawan tentara sekutu, diantaranya pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Selepas agresi militer Belanda pertama pada 1947, Gerakan Pemuda Islam Indonesia yang diprakarsai M. Natsir dan KH. Wahid Hasyim bergabung dengan kedua laskar tersebut. Mereka membentuk Dewan Mobilisasi Pemuda Islam Indonesia, yang menentang semua perundingan dengan Belanda.

Dalam pembukaan latihan tersebut, Kiai Haji Zainul Arifin, Ketua Markas Tertinggi Hizbulloh, dan KH. Wahid Hasyim, Ketua Muda Masjumi, mengingatkan akan pentingnya latihan kemiliteran bagi para pemuda untuk membela agama Islam dan cita-cita perjuangan bangsa. Salah satu yang menjadi tokoh utama adalah ulama kharismatik dari  Ujung Harapan Bekasi yaitu Kiai Haji Noer Ali. Atas jasa besar dan manfaat perjuangannya Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia, telah menganugerahkan almarhum  almaghfurlah KH. Noer Ali sebagai Pahlawan Nasional.

Dengan  adanya catatan sejarah, jejak dan fakta tersebut,  pada Agustus  2010, Markas Besar TNI Angkatan Darat, ditandai dengan kehadiran dan penandatanganan Prasasati Monumen Bersejarah  Perjuangan Umat Islam untuk Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Bapak Dandim Bekasi, telah meneguhkan posisi dan nilai spirit perjuangan Masjid Al-Mujahidin dan area sekitarnya sebagai  saksi dan sumber spirit dari jejak perjuangan umat Islam dalam kecintaan memperjuangkan kemerdekaan Republik  Indonesia.

Majalah Tempo, 18 April 2011, menggambarkan adanya fakta perjuangan heroik Laskar Allah dari Cibarusah. Sekitar lima ratus pemuda berkemeja dengan celana tanggung biru berbaris keluar dari barak-barak anyaman bambu. Para calon opsir ini bersiap mengikuti upacara pembukaan latihan Laskar Hizbullah di Desa Cibarusah, Bekasi. Suatu pagi pada Februari 1945 itu, petinggi Jawa Gunseikan meresmikan pasukan sukarelawan bentukan pemerintah militer Jepang. Bersama mereka, hadir pengurus Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), termasuk Ketua II Muda, KH. Abdul Wahid Hasyim.

Gus Wahid, begitu ia disapa, memang salah satu penggagas pembentukan “Tentara Allah” itu. Menurut dia, ulama dan santri harus angkat senjata melawan Belanda yang bakal segera kembali ke Tanah Air. “Tiap-tiap muslim mesti merupakan nasionalis,” ujarnya.

Dalam sebuah konferensi pada 1949, Wahid menyampaikan unek-uneknya soal ulama yang lebih berpengaruh ketimbang tokoh pergerakan sipil ataupun militer tapi sering ditinggalkan dalam revolusi fisik. “Ulama adalah golongan yang paling berkuasa di Indonesia, melebihi sipil dan militer,” ujarnya. “Pembesar negeri minta petunjuk ulama dan perwira militer menanyakan siasat pertempuran.”

Ide membuat laskar jihad mencuat kala Jepang mengubah strateginya setelah terdesak Sekutu. Perdana Menteri Kuniaki Koiso pada September 1944 mengobral janji, termasuk memberi kemerdekaan. Menurut sejarawan almarhum Kuntowijoyo, Hizbullah merupakan gabungan keinginan pemerintah Jepang dan ulama.

Tak sulit bagi KH. Wahid Hasyim menyampaikan usul membentuk laskar. Jabatan Wakil Ketua Shumubu, kantor urusan agama bentukan Jepang, memudahkan pembicaraan. Sebenarnya yang jadi ketua KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, ayah KH. Wahid Hasyim. Tapi Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari tak mau meninggalkan Pesantren Tebuireng.

g.      Kewafatan KH. R. Ma’mun Nawawi

KH. R. Ma’mun Nawawi wafat pada malam Jum’at 26 Muharram 1395 H pukul 01.15 WIB yang bertepatan dengan tanggal 7 Februari 1975 M di Cibogo pada usia 63 tahun (1912-1975). Pondok pesantrennya saat ini diteruskan oleh salah satu putranya, KH. Jamaluddin Nawawi.

Makam KH. R.Ma’mun Nawawi berada di sekitar pesantren dan banyak dikunjungi orang baik dari Banten atau Bogor, khususnya pada bulan Maulid.

Sya’roni As-Samfuriy, Cikarang 17 Juni 2014

Label: ,