Senin, 10 November 2014

Menjadi Da’i, Kudu Tahan Emosi




Dulu, di awal-awal dakwah al-Habib Umar bin Hafidz BSA beliau menziarahi salah seorang ulama. Ternyata orang (ulama) yang diziarahi itu termasuk mereka yang tidak suka dan iri dengan dakwah Habib Umar. Maka bukannya disambut dengan baik, beliau malah disuguhi caci-makian oleh si tuan rumah: “Kamu ini, masih muda sok sok dakwah segala dan bla bla bla...”

Habib Umar bin Hafidz hanya terdiam, lalu mendunduk penuh adab dan tetap mendengar ucapan orang itu sampai selesai. Ketika orang itu sudah puas dan lelah dengan caci-makinya, maka Habib Umar pun menangis lantas berkata: “Sayyidi (Tuanku), semua yang engkau ucapkan hanyalah sebagian dari aib-aibku yang kau ketahui. Masih banyak lagi aib dan dosa diriku yang hina ini yang belum engkau ketahui.”

Alkisah, suatu hari Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib Ra. lewat di sebuah jalan bersama para muridnya. Tiba-tiba seseorang mendatangi dan menampar pipi beliau sekeras-kerasnya. Orang itu kemudian lari yang menjadikan para murid Sayyidina Ali Zainal Abidin marah besar dan berusaha mengejar orang itu. Tapi guru mereka malah tetap tenang, bahkan tersenyum dan berkata: “Siapa yang menghendaki hal ini terjadi padaku?”

Mereka menjawab: “Allah.”

“Apakah kalian kira aku akan menolak kehendak dan takdir Allah (yang terjadi pada diriku ini)?” pungkas Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra.

Dari 2 kisah ini bisa diambil pelajaran bagaimana cara mengatasi emosi ketika kita hendak meluapkan kemarahan pada orang lain. Ingatlah bahwa:
1.      Siapa sih diri kita ini sebenarnya, bukankah kita ini cuma hamba kurang ajar yang hobinya berbuat dosa? Apa orang hina seperti kita pantas dihormati dan dipuji-puji orang? Kalau mereka tahu aib-aib kita, jangankan salaman, kenal sama kita saja mereka tak akan mau (meminjam kalimatnya Habib Ali al-Jufri).
2.      Kita harus tau kalau di dunia ini tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak dan takdir Allah. Kalau begitu apa gunanya ngamuk-ngamuk tak jelas gara-gara hal yang telah dihendaki dan diputuskan olehNya? Bukankah kita sebgai hamba harus tunduk, patuh dan ridha atas semua yang diputuskan “Tuannya”?
3.      Alhasil, dengan “berkah” cinta kita kepada mereka para auliya’ Allah, semoga kita masih bisa menjadi orang yang “tahan emosi”, kalem dan santun selayaknya mereka-mereka itu. Aamiin. (Sumber: Ust. Ahmad Afif Tawes, Santri Rubath Darul Musthafa Yaman).

Label: ,

Selasa, 28 Oktober 2014

Dua Kisah Menyentuh Habib Hasan Asy-Syathiri, Ulama Besar Yaman





1.      Keringatmu Diperhitungkan

Pernah suatu ketika tatkala al-Habib Hasan bin Abdullah bin Umar asy-Syathiri, ulama besar asal Yaman, diminta untuk mengajar di Masjidil Haram oleh Raja Faisal. Habib Hasan punya banyak murid di Mekkah, maka datanglah beliau namun tidak langsung mengajar. Beliau berkata: “Sebelum mengajar, aku ingin berdagang. Tapi aku tidak punya uang.”

Maka berebutanlah para muridnya datang membawa uang untuk diberikan kepada sang guru secara ikhlas (cuma-cuma). Namun Habib Hasan malah menolaknya, dengan halus beliau berkata: “Aku tidak meminta, tetapi aku ingin berhutang.” Maka para muridnya pun memberikan uang itu kepada sang guru sebagai hutangan, demi mengharap keberkahan darinya.

Esoknya datang para pembesar Mekkah menjemput beliau. Lalu mereka berkata: “Wahai Habib, jika engkau ingin berdagang maka Raja pun bisa memberimu Pasar!”

Tak dinyana, Habib Hasan asy-Syathiri malah menjawab: “Ketahuilah bahwa banyak dosa yang rontok karena keringat yang menetes ketika seseorang bekerja.”

2.      Jangan Dimarahi, Tapi Dirahmati

Habib Hasan bin Abdullah bin Umar asy-Syathiri adalah Pengasuh Rubath Tarim yang sangat terkenal dan dihormati di kota Tarim, Hadhramaut. Suatu ketika, beliau berkunjung ke Singapura dan menginap di salah satu hotel. Ketika murid beliau sedang mengurus check-in, beliau duduk di salah satu sofa yang ada di lobby hotel.

Tiba-tiba duduk di hadapan beliau sepasang kekasih bule. Mereka tak henti-hentinya berciuman dan berpelukan di hadapan sang habib. Habib Hasan hanya menunduk. Rata-rata orang Hadhramaut tak biasa memandang perempuan yang bukan mahramnya, apalagi dalam adegan mesra.

Setelah urusan check-in selesai, Habib Hasan dipersilakan oleh murid-muridnya untuk memasuki lift yang akan membawa ke lantai kamar. Tak disangka, kedua kekasih itu ikut masuk ke dalam lift dan meneruskan percumbuannya. Murid-murid Habib Hasan pun marah dan bermaksud menegur sepasang kekasih tadi karena berbuat yang tidak senonoh di hadapan seorang ulama besar.

Namun Habib Hasan justru melarang murid-muridnya untuk menegur mereka. Beliau tetap menunduk dan kemudian membaca doa. Doa beliau sebagaimana yang masyhur dari Imam Abu Hanifah:

اللهم كما فرحتهما في الدنيا ففرحهما في الاخرة

“Allahumma kama farahtahuma fiddunya, fafarrihhuma fil akhirah.” (Ya Allah, seperti Engkau beri kebahagiaan pada mereka berdua (sepasang kekasih itu) di dunia, bahagiakanlah mereka di akhirat).

Begitulah akhlaq ulama-ulama besar kita. Mereka tidak reaktif dan membabi buta. Rasa kasih sayang didahulukan dari kemarahan. Keinginan Habib Hasan adalah agar keduanya berbahagia di akhirat kelak, seperti kebahagiaan mereka bercumbu dan bercinta di dunia. (Sumber cerita: Habib Ismail Fajrie Alattas).


Label: ,

Senin, 20 Oktober 2014

Sengketa Tanah Habib Umar Bin Hafidz, “Kami Tak Pantas Meributkan Urusan Duniawi”





Pernah ada seseorang yang mengaku-aku sebagai pemilik tanahnya al-Habib Umar bin Hafidz. Ia mengatakan bahwa tanah itu adalah miliknya. Maka keesokan harinya Habib Salim, putera Habib Umar, mendatangi orang tersebut dan menjelaskan panjang lebar bahwa tanah itu bukan miliknya tapi milik Habib Umar. Surat-surat resminya pun ada di tangan Habib Umar.

Namun orang tersebut tidak bergeming, tetap ngotot mengakui tanah itu adalah miliknya. Akhirnya dengan terpaksa Habib Salim mendatangi sang ayah, Habib Umar bin Hafidz, seraya menjelaskan semuanya. “Abah, si fulan mengaku-aku tanah kita yang ada di daerah sana adalah miliknya,” tutur sang anak.

Habib Umar malah menanggapi perkataan anaknya itu dengan senyuman, lalu berkata: “Kalau begitu kita ikhlaskan saja tanah itu untuk dia.”

Sang anak menjadi terheran-heran, barangkali ada yang salah didengar ia mencoba memastikan: “Tapi, bukankah surat-surat resmi tanah itu ada di tangan kita?

Habib Umar kemudian menjawab: “Salim... kita tidak akan berseteru dengan saudara Muslim kita hanya karena urusan duniawi. Kita tidak akan pernah memperebutkan dunia dengan siapapun. Seandainya dia juga mengakui rumah kita ini, kita akan ikhlaskan rumah ini untuknya. Kita masih bisa tidur di mobil kita.”

(Diolah dari tulisan Ahmad Afif Tawes, santri Indonesia di Yaman, yang mendengar langsung dari penuturan al-Habib Salim bin Umar bin Hafidz sewaktu mengadakan “ijtima’ khusus” dengan jamaah haji tahun ini).


Label: ,

Minggu, 19 Oktober 2014

Gus Dur Keturunan Yaman





Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melakukan kunjungan resmi ke Pandeglang, Banten. Pada waktu itu sedang ramai tuntutan pembentukan Propinsi Banten tersendiri, lepas dari cakupan administratif Propinsi Jawa Barat. Di hadapan tokoh-tokoh Banten, termasuk utusan-utusan khusus suku Badui, Presiden membuat pernyataan tegas: “Saya adalah orang yang paling mendukung pembentukan Propinsi Banten!”

Hadirin bersorak gembira dan bertepuk-tangan panjang sekali.

“Kenapa?” Presiden beretorika, “karena saya ini juga keturunan Banten! Silsilah keluarga saya dan Mbak Mega, Bung Karno, bertemu pada kakek buyutnya Syaikh Muhammad Nawawi Banten, yaitu Maulana Ishaq at-Tabarqi…”

Lain waktu, pada perjamuan perayaan tahun baru Imlek, di hadapan tokoh-tokoh kalangan keturunan Tionghoa di Jakarta, Presiden pun lantang: “Semua orang tahu, dari dulu saya ngotot melindungi dan membela hak-hak kaum keturunan Tionghoa di negeri ini!”

Lagi-lagi tepuk-tangan membahana menyambutnya.

“Kenapa?” lanjut Presiden setelah tepuk-tangan mereda, “karena saya sendiri juga keturunan Tionghoa!”

Hadirin tertawa, mengira beliau sedang bercanda seperti biasa.

“Serius!” Presiden memotong tawa mereka, “Leluhur saya berasal dari Tionghoa, dari she (marga) Tan. Namanya: Tan Kim Han!”

Di Sanaa (Shan’aa), ibukota Republik Yaman, di tengah jamuan kenegaraan menyambut kunjungan resmi Presiden Republik Indonesia, di hadapan Presiden Ali Abdullah Shaleh dan para tokoh dari qabilah-qabilah utama di Yaman, Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan: “Ana kaman Yamani… min Basyaiban!” (Saya ini juga orang Yaman… dari marga Basyaiban).

Sayang sekali saya tidak ikut serta ketika beliau berkunjung ke Venezuela. Entah apa yang beliau katakan di hadapan para kepala suku Indian pendukung Hugo Chavez di sana. Mungkin kalau pas berkunjung ke Rembang, Gus Dur dengan tegas mengatakan: “Piye leh?  Aku yo keturunan Lasem je’! Songko Mbah Sambu Lasem alias Sayyid Abdurrahman Basyaiban!” (Oleh: KH. Yahya Cholil Staquf, di Terong Gosong dengan judul “Diplomasi Ketawa: Gus Dur Keturunan Mana?”).

Label: ,