Jumat, 24 Oktober 2014

Islam dan Kristen Satu Misi, Hikmah Sejarah Nabi





Sebuah fragmen sejarah menceritakan bahwa ke-nabi-an Muhammad lebih dahulu diketahui oleh seorang Kristen bernama Bukhaira. Berlatar Kota Basrah dengan alur perdagangan, pertemuan Muhammad yang saat itu masih berusia 12 tahun dengan Buhaira sang pendeta Kristen benar-benar telah diatur oleh Sang Penguasa Alam. Bukhaira bertanya kepada Abu Thalib, pamanda Muhammad yang saat itu menjadi wali bagi keponakannya yang telah yatim piatu, “Siapa anak ini?” Sang paman menjawab, “Ini anak saya.”

Perasaan Bukhaira sebagai pendeta yang ‘sidiq paningal’ berkata lain. Dia merasa ada sesuatu yang lain yang tidak biasa, yang dimiliki oleh anak dan tidak dimiliki oleh orang lain. Perasaan itu menyebabkan ketidakpercayaannya terhadap jawaban Abu Thalib. Bukhaira pun menyangkal,“Tidak, pasti dia anak yang telah ditinggal mati bapaknya.”

Dengan penuh kekaguman, Abu Thalib mengakuinya, “Memang betul, saya pamannya.” Belum habis rasa kagumnya, Abu Thalib dikagetkan lagi dengan pernyataan Bukhaira selanjutnya, “Hati-hati, dia akan menjadi Nabi.”

28 tahun kemudian, tepatnya setelah Rasulullah berumur 40 tahun, sejarah membuktikan kembali keterlibatan pendeta Kristen dalam menerangkan kenabian Muhammad. Kali ini, sejarah bercerita mengenai datangnya wahyu pertama di Gua Hira, Jabal Nur, pada malam 17 Ramadhan. Rasulullah seorang diri di dalam gua gelap nan sunyi, meratapi fenomena sosial masyarakat dan lingkungannya.

Tiba-tiba datanglah Jibril berwujud makhluk aneh, putih, merangkul-rangkul, terasa beban yang sangat berat. Seraya menguatkan rangkulannya, makhluk itu berkata Iqra’ (bacalah). Rasulullah hanya jawab ma ana biqari-in (saya tidak bisa membaca).

Keringat dingin Muhammad bercucuran, ia menggigil ketakutan, lari keluar gua menuruni Jabal Nur. Rasulullah bergegas pulang menemui Khadijah sang istri di rumah. Lalu Muhammad berkata zammiluni (selimuti aku) tiga kali, “saya kedinginan kedatangan makhluk aneh apa jin, apa setan entah aku tidak tahu.”

Dengan gemetaran, Muhammad menceritakan kepada sang istri kejadian yang baru dialaminya di dalam Gua. Dengan tenang Khadijah sang istri menjawab, “Wahai suamiku, kamu adalah orang baik, tidak pernah menyakiti orang, tidak pernah berkhianat, tidak pernah menipu, suka menolong, karenanya Aku yakin dia yang datang kepadamu membawa niat baik. Besok ikutlah denganku menemui sepupuku yang bernama Waraqah bin Naufal, seorang Kristen yang buta. Aku akan mencoba mencari keterangan mengenai kejadian yang baru saja kau alami.”

Sesampainya di rumah Waraqah, Muhammad dan Khadijah bercerita secara runut apa yang terjadi. Waraqah menjawab, “Yang datang kepadamu semalam adalah an-Namus al-Akbar (malaikat senior), yang dulu pernah datang ke Musa. Jadi jangat takut, karena kamu akan menjadi orang mulia. Mudah-mudahan umur saya sampai ketika umatmu mengusir kamu. Ketika kaum Quraisy mengusir kamu, mudah-mudahan saya bisa tahu,” begitu jawab Waraqah.

“Apakah mereka akan mengusir saya?” tanya Muhammad dengan nada tidak percaya setelah mendengar ramalan itu.

Waraqah menjawab, “Setiap Nabi akan mendapatkan tantangan dari kaumnya sendiri, dari familinya dan juga orang di sekelilingnya.”

Khadijah dan Muhammad semakin tersadar bahwa apa yang terjadi dengannya bukanlah hal kecil, tetapi hal istimewa yang nantinya akan mengubah dunia. Untuk ke sekian kali orang Kristen ikut ambil peran dalam kenabian Muhammad.

Sejarah juga menyodorkan kepada kita, betapa hubungan Kristen dengan Islam sangat erat. Tepatnya ketika Romawi yang Katolik berperang dengan Persia yang Majusi. Saat itu Muhammad sudah menjadi Nabi. Beliau berdoa, “Ya Allah, mudah-mudahan kaum Romawi yang Katolik menjadi pemenang mengalahkan Majusi.”

Tetapi Allah berkehenak lain, dan Romawi kalah. Kejadian itu membawa Muhammad Saw. bersedih, kaget dan bermuka murung seperti tidak terima dengan kekalahan Romawi. Karena itulah turun sebuah surat dalam al-Quran yang isinya menghibur Muhammad Saw., surat Romawi yang dalam bahasa Arabnya disebut ar-Rum.

الٓمّٓۚ‏ ﴿۱ غُلِبَتِ الرُّومُ‏ ﴿۲ فِى اَدنَى الاَرضِ وَهُم مِن بَعدِ غَلَبِهِم سَيَغلِبُونَۙ‏ ﴿۳ فِى بِضعِ سِنِينَؕ لِلّٰهِ الاَمرُ مِن قَبلُ وَمِن بَعدُؕ وَيَومَٮِٕذٍ يَّفرَحُ المُؤمِنُونَۙ‏ ﴿۴ 

“Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.” (QS. ar-Rum ayat 1-4).

Apa yang menimpa kaum Katolik Romawi sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan Islam baik secara politik maupun persaudaraan. Betapa pentingnya kejadian tersebut hingga Allah Swt. mengabadikan di dalam al-Quran dengan sebuah surat yaitu, ‘ar-Rum’. Ini menunjukkan bahwa Kristen dan Islam sebenarnya mempunyai misi yang sama dalam membangun peradaban umat manusia, sehingga kerugian dan kekalahan Romawi juga kerugian Islam.

Begitu juga dengan surat Maryam, surat ini adalah bukti sejarah betapa Islam menghormati Sang Bunda. Tepatnya ketika Muhammad Saw. hijrah ke Madinah. Sesampainya di Madinah, orang-orang Yahudi sudah mulai membangun konflik dengan mengembangkan isu bahwa Yesus itu anak jadah, hasil perzinahan antara Maryam dan Yusuf an-Najjar. Islam tidak membiarkan hal ini berlarut-larut. Oleh karena itu, Allah menurunkan satu surat yang isinya merehabilitasi nama baik Maryam.

وَاذكُر فِى الكِتٰبِ مَريَمَ‌ۘ اِذِ انْتَبَذَت مِن اَهلِهَا مَكَانًا شَرقِيًّا ۙ‏ ﴿۱۶

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam al-Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur.” (QS. Maryam ayat 16).

Begitu pentingnya nama baik Maryam sehingga Allah mengkhususkan dalam satu surat tersendiri yaitu surat Maryam.

Satu lagi bukti sejarah, ketika terjadi tragedi pembunuhan massal oleh kaum Majusi yang dirajai oleh Dzun Nuwas terhadap masyarakat Kristen di Najran (sekarang Saudi Selatan), mereka mengadakan sweeping. Semua orang yang beragama Kristen ditangkap, dimasukkan parit lalu dibakar hidup-hidup. Ini adalah cerita nyata yang tidak termaktub dalam Bibel, tetapi malah ada di dalam al-Quran.

قُتِلَ اَصحٰبُ الاُخدُودِۙ‏ ﴿۴ النَّارِ ذَاتِ الوَقُودِۙ‏ ﴿۵ اِذ هُم عَلَيهَا قُعُودٌ ۙ‏ ﴿۶ وَّهُم عَلٰى مَا يَفعَلُونَ بِالمُؤمِنِينَ شُهُودٌ ؕ‏ ﴿۷ وَمَا نَقَمُوا مِنهُم اِلَّا اَن يُّؤمِنُوا بِاللّٰهِ العَزِيزِ الحَمِيدِۙ‏ ﴿۸

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar. Ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. al-Buruj ayat 4-8)

Hubungan Kristen dan Islam tidak hanya sebatas hubungan religiusitas saja, tetapi juga hubungan persaudaraan. Ketika Nabi Muhammad Saw. mendapatkan hadiah dua perempuan dari Muqaukis Gubernur Mesir, beliau sudi menikahi salah satunya. Yaitu Mariyah al-Qibthiyyah yang beragama Kristen Koptik, sedangkan satu lagi yang bernama Sirin beliau hadiahkan kepada Hasan bin Tsabit. Mariyah inilah yang nantinya mempunyai anak yang bernama Ibrahim (yang meninggal masih kecil). Nabi Muhammad Saw. waktu itu tidak punya anak laki-laki kecuali dari Mariyah itu.

Setelah menerima perempuan itu, Nabi Muhammad Saw. berkata kepada sahabat Umar. “Umar, nanti Islam akan sampai ke Mesir berkat tanganmu (perjuanganmu). Kalau nanti Islam sudah sampai ke Mesir, saya pesan keluarganya bibimu ini (keluarga Mariyah) jangan kamu ganggu,” begitu kata Nabi.

Benar saja, sejarah berjalan dan akhirnya Islam sampai pula ke Mesir, yakni ketika Khalifah Umar dan ‘Amr bin Ash berhasil menaklukkan Mesir. Saat itulah Umar teringat pesan Nabi Muhammad Saw. Karena itu, orang Kristen Koptik tidak diganggu sama sekali hingga sekarang. Bahkan sampai detik ini, pusat Kristen Koptik berada di Aleksanderia. Jadi, Nabi Muhammad Saw. saat itu benar-benar menjaga eksistensi keselamatan, keutuhan, kehormatan, harga diri masyarakat Kristen Koptik.

Tidak hanya Rasulullah Saw. yang selalu berniat baik dan menjaga hubungan dengan Kristen, Khalifah Umar pun senantiasa mewarisi kebijakan ajaran Rasul. Ketika pasukan Umar di bawah pimpinan Abu Ubaidah bin Jarrah berhasil menguasai Pelestina, ia pun tidak semena-mena bertindak dalam mengambil sikap. Hal ini tercermin pada waktu prosesi penyerahan kunci Kota Palestina, dari sang penguasa lama kepada Sayyidina Umar.

Saat itu penyerahan diadakan di dalam gereja, sesaat kemudian adzan Ashar berkumandang. Sang penguasa Palestina mempersilakan Khalifah Umar untuk mengambil ruang di dalam gereja guna melakukan shalat. Tetapi ditolaknya, Sayyidina Umar lebih memilih shalat di luar gereja dengan alasan, “Saya tidak mau shalat di dalam gereja bukan apa-apa, saya khawatir kalau nanti ada generasi Islam mendatang merebut gereja ini dengan dalih Umar shalat di sini.”

Itulah beberapa potongan-potongan cerita sejarah yang menggambarkan bagaimana sejak Islam lahir sebagai agama yang mempunyai garis keberagamaan yang sangat moderat dalam berhubungan dan bermuamalah dengan agama lain. Islam mempunyai rumus wasathan (tengah-tengah, moderat, tidak ekstrem kiri, juga tidak ekstrem kanan), yang diambil dari ayat wakadzalika ja’alnakum ummatan wasathan. Artinya, Islam memang dijadikan oleh Allah sebagai agama penyempurna yang tidak terlalu legal formal seperti Yahudi yang segalanya berorientasi pada hukum, dan juga tidak terlalu menonjolkan etika moral spiritual seperti Kristen.

Islam agama yang menyeimbangkan antar keduanya. Karena itu, al-Quran sebenanya tidak terlalu legal formal, tidak terlalu fiqih, dan tidak terlalu kaku. Al-Quran juga tidak terlalu ruhani, tidak terlalu spritual. Tetapi al-Quran mengambil seluruh aspek secara seimbang, antara tuntutan spritual dan tuntutan materi, tuntutan hidup duniawi dan tututan hidup ukhrawi.

Salah kalau orang hidup hanya sebagai makhluk ibadah saja, tetapi melupakan sisi khalifah fi al-ardh. Keliru kalau orang hidup sadar sebagai khalifahnya saja, tetapi lupa sebagai makhlukNya. Jadi makhluk harus beribadah dengan khusyuk dan menjadi khalifah yang kreatif dan produktif. Itulah makna Islam wasathan. NU adalah sebagai representasi Islam wasathan di Indonesia.

Untuk mengejawantahkan Islam yang berpola wasathan di bumi Nusantara, umat Islam di Indonesia mempunyai motivasi lebih dari cukup. Berbagai coretan sejarah Islam di atas, yang kesemuanya diambil dari sunnah Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, merupakan modal besar dan ide dasar guna mengembangkan Islam yang sejuk nan damai. Belum lagi sejarah lokal yang penuh kebijakan dan kebijaksanaan.

Mari kita tengok bersama metode dakwah para Wali Songo. Sedikit demi sedikit, dengan penuh kesabaran, mereka mencoba memahami dan memasuki relung kehidupan masyarakat Jawa paling dalam. Para wali telah mempelajari terlebih dahulu sebelum akhirnya berhasil mewarnai Jawa dengan corak Islam. Bil hikmah wal mau’idzatil hasanah, terbuka, menerima budaya, tradisi, adat yang sudah ada di tengah-tengah masyarakat Jawa. Selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid, para Wali Songo siap menerima apa yang ada dari sini.

Apakah hal tersebut menyimpang dari ajaran Islam? Tidak, justru di situlah terungkap jelas bagaimana ummatan wasathan dibumikan dan dipraksiskan. Inilah bukti bahwa ummatan wasathan adalah corak dakwah Islam yang paling sesuai di Indonesia.

Bukan hanya dalam hal akidah dan syariat saja para Wali Songo berhasil menelusupkan Islam ke jantung kehidupan masyarakat Jawa, tetapi juga dalam berbagai sendi kehidupan. Kesuksesan besar yang sangat berharga adalah keberhasilan para Wali Songo memasukkan sekian ratus kata Arab ke dalam bahasa Indonesia. Sebut saja nama-nama hari (mulai Ahad, Senin, sampai Sabtu), kata seperti hakim, hukum, mahkamah, dahsyat, hebat, laknat, rahmat, lezat, melarat, semuanya berasal dari bahasa Arab. Bahkan kata Majelis Permusyawaratan Rakyat juga merupakan serapan dari bahasa Arab.

Metode dakwah para Wali Songo inilah yang dijadikan pondasi bagi NU. Dengan strategi berbasis tradisi para wali mampu menjembatani berbagai macam persoalan, dari kesenjangan intelektual, kesenjangan ekonomi, hingga perbedaan kasta. Tradisi dikreasikan oleh para wali sebagai senjata ampuh penyebaran ajaran Islam. Metode inilah yang turun-temurun diwarisi oleh para ulama NU.

Para kyai berusaha membina masyarakat dan bangsa Indonesia tanpa tercerabut dari akar tradisinya. NU selaku organisasi terbesar di Indonesia harus mampu mengawal cita-cita dan arah perjalanan bangsa ini. Oleh karena itu, NU menolak berbagai bentuk dakwah Islam yang menonjolkan praktek kekerasan dan mengabaikan nilai-nilai kedamaian. Karena itu tidak sesuai dengan ajaran Islam dan nilai-nilai luhur budaya Indonesia. (Oleh: Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj, ditranskip oleh Ustadz Raenaldy Abdillah).

Label: ,

Jumat, 17 Oktober 2014

Indonesia dan Kepemimpinan Kafir





Indonesia ini didirikan oleh ummat yang beragam berdasarkan kesepakatan, betul nggak? Namun jika ada yang mengatakan bahwa ummat Islam telah ditipu oleh para penipu waktu itu, sehingga gagal menetapkan dasar dasar negara berdasarkan syariat Islam, seyakinnya hal itu tidak lepas dari qudrah dan iradah Allah untuk menjadikan Indonesia seperti ini.

Yang kedua, jika pada waktu itu masih banyak ulama kondang yang masih hidup, bahkan Syaikhul Masyayikh Mbah Kyai Hasyim Asy’ari juga belum wafat, toh berhasil ditipu, bagaimana dengan masa sekarang yang orang-orangnya sepertimu?

Nah, apapun yang kemudian tersepakati, baik terpaksa atau berberat hati, akhirnya untuk ikut andil dalam merawat kemerdekaan, para ulama itupun akhirnya bersatu dalam suara yang terpadu, yaitu ikut partai Masyumi. Namun apa yang terjadi? Disamping Masyumi akhirnya dibubarkan, tetapi sebelumnya telah pecah dari dalam sendiri.

Nah, jika ada yang mengaitkan naiknya Ahok dengan aturan al-Wala wa al-Barra, sehingga ummat Islam yang menerimanya dianggap sebagai ummat yang membela orang kafir, saya kira terlalu berpijak dengan kaki satu saja dalam memgambil tuduhannya. Sebab hukum Islam dengan segala konskuensinya itu bisa diberlakukan jika mula-mula dasar negara ini syariat Islam.

Setelah menelaah sekian lembar google, akhirnya saya menyimpulkan bahwa:

الولاء هو لزوم المحبة أو النصرة

“Al-wala adalah keterlangsungan mencintai atau pertolongan.”

Namun demikian, apakah yang dimaksud adalah mencintai ketidak-islamannya ataukah mencintai kepemimpinannya. Ini akan membutuhkan lagi nalar fiqih yang serius, dan jika dikembalikan kepada soal yang pertama tadi maka akan sangat sulit jika kita ambil satu keputusan hukum boleh dan tidaknya. Apakah mendukung kepemimpinannya sama dengan dengan mendukung kekafirannya? Demikian juga sebaliknya.

Adapun al-Barra itu bisa disimpulkan:

لزوم التعدد

“Keterikatan untuk memusuhi.”

Padahal para ulama dahulu juga sudah sepakat untuk saling sepakat bahwa Negara ini didirikan dengan cara saling sepakat dengan tanpa syarat-syarat yang ditentukan oleh syariat masing-masing yang mengikat. Lalu bagaimana ada celah permusuhan?

Mungkin jika ta’addud (memusuhi) itu dilebarluaskan artinya menjadi persaingan, maka tugas ummat Islam adalah mempersiapkan kandidat orang Islam yang dengan segala kemampuannya bisa diandalkan. (Oleh: Mbah Zainal Ma’arif Rembang).

Label: ,