Jumat, 27 Juni 2014

KAROMAH SYAIKH NAWAWI AL-BANTANI SAAT MASIH MUDA




Dulu saat Syaikh Nawawi al-Bantani masih muda, sekitar usia belasan tahun, pernah shalat di Masjid Pekojan Jakarta Kota dekat kediaman Habib Utsman bin Yahya. Usai shalat Syaikh Nawawi menghampiri dan berkata kepada Habib Utsman, yang waktu itu juga berada di masjid, dengan nada lemah lembut dan penuh hormat: “Wahai Habib yang saya hormati. Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

“Ya, ada apa anak muda?” Jawab Habib Utsman.

“Begini Habib, masjid ini kurang ngiblat dan kurang nyerong ke sebalah kanan (ke arah utara).”

Karena Habib Utsman adalah seorang pakar ilmu falak, beliu pun heran dan menyanggah: “Masid ini sudah saya ukur dengan alat kompas dan berdasarkan ilmu falak.”

Kemudian Syaikh Nawawi al-Bantani dengan sopannya menunjuk ke arah kiblat. Dan seketika itu juga Ka’bah terlihat sangat jelas di hadapan mereka berdua. Menyaksikan itu, Habib Utsman bin Yahya terperanjat dan kemudian langsung menubruk ingin mencium tangan Syaikh Nawawi al-Bantani. Namun Syaikh Nawawi menarik dan menolak tangannya untuk dicium oleh Habib Utsman bin Yahya. Dan beliau berkata: “Wahai Habib yang mulia. Saya tidak pantas untuk dicium tangani oleh Habib. Karena, Habib adalah orang mulia dan keturunan Rasulullah, sedangkan saya adalah orang kampung biasa.”

Mendengar kata-kata itu, Habib Utsman bin Yahya langsung merangkul badan Syaikh Nawawi dan mereka saling berpelukan sambil menangis dengan bercucuran air mata.
________________
Syaikh Nawawi al-Bantani juga termasuk salah seorang ulama pakar ilmu falak. Banyak kitab-kitab karyanya yang menerangkan tentang ilmu falak. Hanya saja kitab yang masuk ke Indonesia (yang saya tahu) adalah kitab Sullam al-Munajat.

Di dalam kitab Sullam al-Munajat halaman 23-24, cetakan Darul Kutub al-Islamiyyah Kalibata-Jakarta Selatan, Syaikh Nawawi menerangkan tentang ilmu arah kiblat beserta hukumnya. Hanya saja untuk menghitung arah kiblat wilayah Banten, beliau menggunakan sebagai bujur nol derajatnya adalah “Az-Zajairatul Khalidat”, bukan Greewich. Tapi setelah saya hitung dan saya bandingkan dengan perhitungan ilmu falak arah kiblat “Sistem Kontemporer” hasilnya tidak beda jauh alias hampir sama. (Diedit dari tulisan KH. Thobary Syadzily al-Bantani, cucu Syaikh Nawawi al-Bantani dan Pengasuh PP Al-Husna Tangerang).

Sya’roni As-Samfuriy, Cikarang 27 Juni 2014

Label: ,

Selasa, 24 Juni 2014

MENGUAK RAHASIA MUHAMMADIYAH SELALU NAMPAK BEDA DENGAN NAHDLATUL ULAMA (NU)



KH. Ahmad Dahlan dan Kh. Hasyim Asy’ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli hadits dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan Islam menurut skil dan lingkungan masing-masing. Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari Kuto Ngayogyokarto. Sementara Kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia.

Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad mendirikan organisasi Muhammadiyah dan Kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu. Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain:

1.      Shalat Tarawih sama-sama 20 rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat Tarawih 20 rakaat di Masjid Syuhada Yogya.
2.      Talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan.
3.      Baca doa Qunut Shubuh.
4.      Sama-sama gemar membaca shalawat (Diba’an).
5.      Dua kali khutbah dalam shalat Ied, Iedul Fithri dan Iedul Adha.
6.      Tiga kali takbir, “Allah Akbar”, dalam takbiran.
7.      Kalimat iqamah (qad qamat ash-shalat) diulang dua kali.
8.      Dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.

Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitab Fiqih Muhammadiyah yang terdiri dari 3 jilid, yang diterbitkan oleh: Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343-an H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktek ibadah yang rupanya “harus beda” dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail (dalil-dalil), nanti difikir bareng dan dicari-carikan.

Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. Untuk ini, ada sebuah tesis yang meneliti hadits-hadits yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah: bahwa mayoritas hadits-hadits yang dipakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha’if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma’in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha’if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau fadhail al-a’mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktek ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih 8 plus 3 witir, bagaimana prakteknya?

Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi: 4, 4, 3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk Tarawih. Dan tiga rakaat untuk Witir. Model Witir tiga sekaligus ini versi madzhab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu Witir. Ini versi asy-Syafi’i.

Tapi pada tahun 1987, praktek shalat Tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH. Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di Masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadits dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadits Muslim lebih shahih ketimbang hadits empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan Majlis Tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushalla di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat Tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.

Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan Pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai Departemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu dipakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama menggunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai hadits rukyah dan ikmal.

Oleh karena itu, tahun 90-an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh Departemen Agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.

Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU.

Lalu membuat metode “wujud al-hilal”. Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadits yang dulu dielu-elukan, ayat al-Quran berisikan seruan “taat kepada Allah, RasulNya dan Ulil Amri” dibuang dan alergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera.

Populerkah metode “wujud al-hilal” dalam tradisi keilmuwan falak? Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupun sekarang.

Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah hilal harus derajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya takkan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja.

Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat?

Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain?

Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu’ atau teropong modern sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.

Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan Majlis Tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelemahan akademik pasti ada. (Diedit ulang dari tulisan Ustadz Sulaiman Timun Mas).

Sya’roni As-Samfuriy, Cikarang 25 Juni 2014

Label: ,

Senin, 23 Juni 2014

SOSOKNYA NYARIS SAMA DENGAN SOSOK RASULULLAH SAW.




Diantara karomah Abuya as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki adalah banyak murid dan pecinta beliau yang bermimpi jumpa Rasulullah Saw. ternyata sosoknya nyaris sama dengan sosok Abuya al-Maliki. Ini merupakan bukti nyata adanya i’tina’ khashshah (perhatian khusus) dari Rasulullah Saw. untuk beliau. Seperti dikisahkan oleh salah satu murid beliau yang baru datang dari Indonesia. Murid baru itu dengan teman-temannya ditempatkan di ‘Utaibiyyah, Makkah. Setelah satu bulan mereka dipindah oleh Abuya ke Madinah.

Ketika tiba di Kota Madinah, sebelum berziarah kepada Rasulullah Saw., mereka menempati syuqqah Babul ‘Awali hingga esok hari. Di malam hari, murid yang baru itu bermimpi. Dalam mimpinya ia bersama teman-temannya pergi berziarah ke makam Rasulullah Saw. Sesampainya di depan makam, ternyata sudah banyak orang-orang yang menanti dan mengitari makam tersebut seakan-akan mereka menunggu seseorang yang akan keluar dari dalam makam. Murid itu pun ikut serta bergerombol bersama mereka.

Tiba-tiba dari arah belakang terjadi keributan kecil, dan orang-orang semua melongokkan kepala untuk menyaksikan apa yang terjadi. Ternyata di sana telah berdiri seseorang yang sosoknya nyaris sama dengan Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki. Sosok itu dikitari kerumunan orang yang berteriak-teriak ramah lantaran memanggil-manggil: “Rasulullah… Rasulullah… Rasulullah…”

Entah mengapa, seketika itu juga si murid meyakini bahwa yang datang tiada lain adalah perawakan Abuya, dengan segala bentuk pakaian yang biasa melekat pada diri Abuya. Secara spontan pula murid itu mendekati dan merangkul Rasulullah Saw.

Terjaga dari tidur, dia duduk termenung memikirkan apa yang baru saja dialaminya dalam mimpi yang relativ singkat itu. Ia tidak berani bercerita kepada siapapun, sebab takut salah. Hanya saja mimpi itu terus terbayang dalam benaknya. Hingga suatu ketika ia bertanya kepada salah seorang teman seniornya: “Apakah ada diantara murid-murid Abuya yang pernah mimpi bertemu Rasulullah Saw.?”

Pada akhirnya dia mendapat keterangan, ternyata banyak juga yang mengalaminya. Dan diantara mereka yang mengalami itu juga menyatakan bahwa sosok Rasulullah Saw. yang sering muncul dalam mimpi mereka nyaris sama dengan sosok Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani.

Sebelum kewafatannya, Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki al-Hasani berdoa 3 hal:

1.      Ingin meninggal di antara murid-murid dan kitab-kitabnya.
2.      Yang menshalatkan di Masjidil Haram adalah imam yang cinta kepada beliau, bukan yang benci atau memusuhinya.
3.      Dan meminta agar jenazahnya sebelum dikebumikan di Ma’la bisa masuk di makam Sayyidah Khadijah al-Kubra Ra., istri Rasulullah Saw.

Dan pada kenyataannya semua yang beliau harapkan itu terwujud atas izin Allah Swt. Demikianlah salah satu bukti kecintaan Allah Swt. kepada beliau. Walaupun sempat masuk rumah sakit karena sakit yang datang tiba-tiba, tetapi ketika akan wafat beliau meminta agar dibawa pulang. Dan akhirnya beliau wafat di antara murid-murid dan kitab-kitabnya.

Ketika akan dishalati di Masjidil Haram, saat itu imamnya adalah orang yang tidak beliau sukai. Tetapi ajaibnya, ketika jenazah dimasukkan ke dalam masjid, si imam tadi seakan tidak bisa mengeluarkan suara sehingga dia mundur dan digantikan oleh iman lain yaitu Syaikh Muhammad Abdullah Subayyil, seorang imam yang dekat dan cinta dengan beliau.

Ketika puluhan ribu manusia mengiringi kepergiannya, keranda diusung dari Masjidil Haram menuju komplek pemakaman Ma’la. Lautan manusia meliputi jalan-jalan saat itu bergema tahlil dan dzikir. Subhanallah, ketika dekat dengan makam Sayyidah Khadijah Ra. tiba-tiba pintu yang menutup makam Sayyidah Khadijah terbuka. Sehingga jenazah beliau pun dapat memasukinya. Baru kemudian dikeluarkan kembali untuk dibawa ke Ma’la.

Beliau adalah seorang yang kasyaf, artinya Allah membuka untuk beliau sesuatu yang tertutup untuk orang lain sehingga sesuatu itu begitu tampak jelas baginya. Bahkan perbuatan manusia pun tampak di hadapannya. Hal ini kurang beliau sukai sehingga seringkali beliau meminta kepada Allah agar menghilangkan kasyaf tersebut.

Beliau pernah berkata kepada salah satu muridnya, al-Habib Shaleh bin Ahmad Alaydrus: “Wahai Shaleh, sesungguhnya perumpamaan maqam kasyaf dan jadzab dibandingkan dengan maqam yang di atasnya seperti anak perempuan kecil yang senang dengan bonekanya. Dia akan merasa cukup dengan boneka itu daripada sesuatu yang lebih berharga dan lebih mahal.”

Tetapi sesungguhnya karomah yang besar justru terdapat pada keistiqamahan beliau dalam beribadah, berdakwah, mengajar dan melayani umat. Cukup menunjukkan kebesaran beliau dan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah menjadikan ilmu beliau manfaat, barakah dan murid-muridnya menyebar ke seluruh penjuru dunia menjadi ahli dakwah, ulama dan penyambung lidah Rasulullah Saw.

Demikian pula dengan karya-karya beliau yang terus akan dimanfaatkan dan diambil hikmahnya oleh manusia sepeninggal beliau. Banyak para wali Allah justru karomah mereka tampak pada karya-karya tulisnya seperti Imam an-Nawawi dan juga tampak pada keberkahan wirid-wirid yang disusunnya seperti Imam Abul Hasan asy-Syadzili.

Beliau memang sudah meninggalkan dunia yang fana ini tetapi tetap hidup di hati para pecintanya. Bahkan para ulama dan auliya’ mereka tidaklah mati begitu saja. Mereka tetap hidup di sisi Allah dan tetap memperoleh rizki dariNya. Ruh mereka bebas berjalan ke mana mereka inginkan sama ketika mereka masih hidup di dunia. Sebab ruh para kekasih Allah tidak dibelenggu atau diikat.

Hubungan beliau dengan para murid dan pecintanya terus bersambung sekalipun sudah berpindah alam. Banyak diantara murid beliau yang bermimpi mendapatkan petunjuk dan arahan dari beliau. Ketika mereka mendapatkan suatu masalah, beliau datang dalam mimpi untuk membantu memberikan solusi. Demikianlah para auliya’ yang tidak pernah putus mendapat rahmat Allah sekalipun sudah memasuki alam barzakh. Mudah-mudahan Allah mengumpulkan kita bersama beliau dan para auliya’ dalam keadaan ridha dan diridhai oleh Allah Swt. Aamiin. (Disadur dari buku “Mutiara Ahlul Bait dari Tanah Haram, Biografi Prof. DR. As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani” halaman 61-73).

Berikut adalah cuplikan pemakaman Abuya as-Sayyid Muhammad Alawi al-maliki: http://youtu.be/H0sg4Lbj3S4

Ulasan tentang detik-detik kewafatan Abuya as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki silakan baca di sini: http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/07/isyarat-kewafatan-sayyid-muhammad-bin.html atau https://www.facebook.com/photo.php?fbid=479932038764140

Sya’roni As-Samfuriy, Cikarang 23 Juni 2014

Label: ,