Senin, 28 April 2014

CITRA ISLAM DIBENTUK OLEH PERILAKU SI MUSLIM





Ada kejadian nyata di Australia dua orang muslim hidup di dua tempat berbeda yang kebetulan mayoritas non-muslim. Salah satu dari mereka bersikap buruk, sering merugikan tetangganya, mengganggu dan perilaku tak terpuji lainnya. Sedangkan muslim satu lagi selalu bersikap santun, ramah dan bergaul dengan baik di masyarakatnya.

Suatu ketika, ada pemberitaan di media tentang sosok teroris yang kebetulan beragama Islam. Maka, si tetangga yang memiliki tetangga muslim berperangai buruk akan sesumbar dengan begitu bersemangat: “Betul! Orang-orang Islam memang berbahaya! Mereka semua busuk! Kalian jauhilah orang-orang Islam!”

Sebaliknya, tetangga si muslim yang satunya lagi akan menolak berita itu: “Tidak! Muslim tidak seperti itu! Mereka orang-orang yang baik! Pasti ada yang salah dengan pemberitaan ini!” Bahkan orang tersebut akan sungguh-sungguh membela tetangga muslimnya dari cercaan orang-orang.

Jadi, bagaimana citra agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. hari ini adalah tergantung bagaimana engkau bersikap wahai kaum muslimin. (Cuplikan taushiyah al-Habib Umar bin Hafidz dalam kunjungannya ke Univ. Paramadina Jakarta dan dalam rihlahnya ke Granada Spanyol. Videonya silakan lihat di: http://www.youtube.com/watch?v=SHvkilXV1_E).

Ingatlah hadits riwayat Ibnu Hibban tentang seorang sahabat bernama Fudaik. Ia adalah seorang muslim yang hidup di tengah-tengah non-muslim. Ia memutuskan untuk hijrah, pindah dari negerinya menuju Madinah, hidup bersama Rasulullah Saw.

Namun, ketika ia berpamitan kepada masyarakat dimana ia tinggal, orang-orang membujuknya untuk mengurungkan niat: “Anda orang baik. Kami semua menghormati Anda karena Anda sangat peduli kepada kami. Kami berharap Anda tidak pergi, tetaplah di sini. Kami akan sangat bahagia jika Anda tetap menjadi bagian dari kami.”

Maka Fudaik tetap pergi ke Madinah, namun ia berkonsultasi kepada Rasulullah Saw. atas bujukan masyarakatnya. Apa jawab Rasulullah Saw.? Beliau Saw. bersabda: “Laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, tinggalkan segala keburukan, dan tinggallah di antara orang-orangmu di manapun kau mau. Jika kau melakukannya, kau adalah seorang ‘muhajir’.”

Maka jadilah warga yang baik, atau di manapun kau berada. Selama kau tidak dilarang untuk melaksanakan ajaran agamamu, tinggallah bersama masyarakatmu dengan baik. Namun satu catatan; kita harus semampu mungkin melaksanakan ajaran agama dengan total, sebagaimana disyaratkan Rasulullah terhadap Fudaik. Terutama menjauhi segala keburukan dan kejahatan, sehingga seorang muslim bisa menjadi teladan di tengah masyarakatnya. (Cuplikan taushiyah Syaikh Abdullah bin Bayyah di Kensington Hall London. Videonya silakan lihat di sini: http://www.youtube.com/watch?v=DKcDDukGIEY). (Kontributor: Ustadz Zia Ul Haq).

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 28 April 2014

Label: ,

Minggu, 27 April 2014

KITA SEMAKIN KEKURANGAN TELADAN




Malam ini kita membacakan tahlil dan mendoakan almarhum KH. Zainal Abidin Munawwir. Kita itu sok-sok-an. Model seperti saya dan panjenengan gayanya mendoakan Kiai Zainal. Ya, kita semua sesungguhnya hanya mengharap barokah dari beliau.

Meski saya bukan wali, tapi saya meyakini Kiai Zainal itu adalah wali. Karena seperti terdapat dalam al-Quran, ciri wali itu tidak punya rasa takut dan tidak punya susah. Lha saya belum pernah tahu Kiai Zainal itu punya rasa takut dan susah.

أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus ayat 62).

Sebenarnya panjenengan itu juga bisa jadi wali, wong panjenengan sudah memiliki salah satu syaratnya. Padahal syarat menjadi wali cuma dua. Panjenengan semua sudah punya satu, yaitu mengakui bahwa Gusti Pangeran itu hanyalah Allah Ta’ala.

إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللهُ، ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. al-Ahqaf ayat 13).

Jadi syarat yang pertama, menyatakan bahwa Tuhannya adalah Allah (قَالُوْا رَبُّنَا اللهُ), yang kedua adalah istiqomah (ثُمَّ اسْتَقَامُوْا). Untuk jadi wali seperti Kiai Zainal, panjenengan kurang satu syarat saja, yaitu istiqomah. Syarat istiqomah ini memang yang paling sulit.

Panjenengan menyaksikan sendiri bagaimana Kiai Zainal dalam keadaan gerah masih berangkat ngimami di masjid dan tetap memikirkan santri. Sementara banyak orang yang mau sholat, tapi jarang yang sholatnya bisa istiqomah; orang yang mau mengajar juga banyak, tapi yang mengajar dengan istiqomah itu jarang; banyak yang bisa memperhatikan anaknya orang, tapi yang memperhatikan anak orang secara terus-menerus itu sedikit sekali. Istiqomah itu yang berat.

Saya mendengar ada gunung meletus tidak begitu kaget, meskipun abunya sampai Jogja. Tapi saya kaget mendengar kiai-kiai wafat, Kiai Sahal Mahfudz kemudian menyusul Kiai Zainal. Gusti Allah itu, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw., bila mengambil ilmuNya, tidak dengan cara mencabut ilmu itu dari dada para ulama (إن الله لا يَنْتَزِعُ العلم انتزاعا من صدور العلماء), akan tetapi (بقبض العلماء) Allah mengambil ilmuNya dengan cara mewafatkan ulama.

Kiai Munawwir dipundut nyawanya, sekaligus diambil ilmunya; Kiai Abdullah dipundut beserta ilmunya; Kiai Abdul Qodir dipundut beserta ilmunya; Kiai Ali Maksum dipundut beserta ilmunya; Kiai Warsun dipundut beserta ilmunya; Kiai Zainal dipundut beserta ilmunya.

حتى إذا لم يَبْقَ عالم، وفي رواية: حتى إذا لم يُبْقِ عالما، اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا – أو كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Kalau kiai-kiai sudah diambil, orang-orang bingung harus bertanya kepada siapa. Mereka kemudian bertanya kepada orang sembarangan: pokoknya asal orang pakai sorban; asal jenggotan; asal jubahan; dipanggil kiai; dipanggil ustadz; pasti akan ditanya (فأفتوا بغير علم). Maka mereka menjawab tanpa ilmu, (فضلوا وأضلوا) jadinya mereka sesat dan menyesatkan orang lain.

Ini semua sekarang sudah kelihatan tanda-tandanya: banyak mufti jadi-jadian, yang ditanya apa saja bisa menjawab. Padahal itu tandanya geblek, bukan tanda orang yang alim. Tandanya orang bodoh itu adalah bila ditanya apa saja, bisa menjawab.

Ditanya: “Bagaimana hukumnya ayam yang ketabrak mobil, Ustadz?” “Itu ayamnya masih hangat apa tidak?” “Masih agak hangat, Ustadz.” “Kalau masih agak hangat berarti agak halal…” Sampeyan kalau mau tahu silakan buka televisi, ukuran jawabannya asal bisa dinalar saja.

Ada juga dikatakan: (موت العالِم موت العالَم). Pada masa ini yang sulit itu adalah mencari teladan. Islam itu kekurangan contoh. Oleh sebab itu wajah Islam kelihatan jelek, karena kurang contoh. Yang dijadikan contoh yang jelek-jelek. Sampeyan lihat Youtube, ada bocah edan pakai jubah, menginjak kepala, yang begini ini yang merusak. Kalau ditanya: bagaimana baiknya, maka jawabnya: baiknya mandeg saja, gak usah lagi. Ini merusak Islam. Orang Islam saja melihatnya jijik dan muak, apalagi orang lain.

Lha di (Krapyak) sini ini sudah banyak contoh. Ada Kiai Abdul Qodir, ada Kiai Ali. Kalau mau yang agak ketat, ada Kiai Zainal. Kalau mau contoh yang gampangan, ada Kiai Ali. Ada semua contohnya. Orang itu macam-macam. Ada yang maunya ketat, ada yang maunya enteng. Dan yang seperti ini sudah ada sejak zaman Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Santrinya macam-macam, ada yang seperti Abu Bakar Ra., ada yang seperti Umar Ra.

Sahabat Umar Ra. itu contoh sahabat sangat berhati-hati. Hingga terhadap teman dan saudaranya sendiri saja keras, hingga sahabat Khalid bin Walid Ra. dipecat dari jabatannya sebagai Komandan Tentara. Sahabat Abu Bakar Ra. lain, lembut. Pendekatannya berbeda. Tapi semua itu didasarkan pada rahmat dan kasih sayang. Itu yang kemudian dilanjutkan dari sejak sahabat, tabi’in dan para ulama hingga sampai kepada Mbah Hasyim Asy’ari.

Beliau punya dua orang anak buah yang berbeda: Mbah Bisri Syansuri yang ketat dan Mbah Abdul Wahab Hasbullah yang gampangan. Warga Nahdliyyin yang sedemikian banyak akhirnya punya pilihan: yang belum bisa ya ikut Mbah Wahab, yang sudah bisa ya ikut Mbah Bisri. Tapi manusia yang macam-macam itu, yang ketat maupun gampangan, mesti dilandasi dengan kasih sayang.

Makanya kalau saya ditanya tentang kriteria kiai itu apa, maka saya jawab:

 الذين ينظرون إلى الأمة بعين الرحمة

“Kiai adalah mereka yang memandang umat dengan pandangan rahmat.”

Mereka ini hanya meniru Kanjeng Nabi Muhammad Saw., yang beliau itu:

عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. at-Taubat ayat 128).

Tapi yang namanya meniru Kanjeng Nabi itu ya tidak mungkin bisa persis meniru semua seperti Nabi. Kalau sama persis nanti dikira ada nabi kembar. Ada yang meniru cara peribadatannya; ada yang meniru model perjuangannya; ada yang meniru cara dakwahnya. Meniru apa saja. Kanjeng Nabi itu hebat dalam bidang apa saja: termasuk saat menjadi panglima.

Jadi, meskipun orang itu pakai sorban sebesar ban truk, jenggotnya puanjang hingga pusar, tapi tidak punya belas kasih kepada umat, maka saya tidak sudi memanggilnya kiai. Sebaliknya, meskipun orang itu tidak berpenampilan kiai, tapi punya belas kasih kepada umat, maka dia itu kiai.

Sama halnya bila ada orang yang merasa pinter, dan menyatakan bahwa orang yang ber-Islam itu harus dengan merujuk langsung pada al-Quran dan al-Hadits. Ini orang yang juga tidak punya belas kasih terhadap orang awam. Bagaimana mungkin, sementara dia saja tidak becus membaca al-Quran, dan belum tentu paham dengan apa yang dibacanya.

Orang Arab sendiri belum tentu paham bila membaca al-Quran secara langsung. Sampeyan bandingkan dengan kiai-kiai zaman dahulu, seperti Imam Syafi’i dan sesudahnya, yang mereka membuat buku-buku praktis semisal Sullamut Taufiq, Safinatun Naja, maupun Taqrib. Ulama seperti mereka itulah yang pantas mengkaji dasar al-Quran dan al-Hadits secara langsung. Tidak sembarangan. Jadi orang-orang awam tinggal mengikut buku-buku praktis yang sudah dibuat, daripada jika mereka disuruh melihat al-Quran sendiri, tentu akan malas. Beliau-beliau para ulama itulah, dengan dilandasi kasih sayang, membantu orang awam dalam memahami Islam.

Dengan melihat istiqomahnya Kiai Zainal dalam ibadah, mengajar dan membimbing santri, paling tidak kita bisa tahu dan mencontoh bagaimana perilaku Nabi. Kita tidak perlu melihat Nabi secara langsung. Saya sendiri kadang melamun, seumpama saya hidup di masa Nabi, tentu saya merasa enak, karena tidak perlu membaca al-Quran, tidak perlu belajar banyak, sebab melihat sendiri sudah ada ‘al-Quran berjalan’. Jadi kalau mau perlu apa-apa tinggal melihat Nabi; Bagaimana membina persaudaraan yang baik melihat Kanjeng Nabi, bagaimana memimpin ummat yang baik melihat Kanjeng Nabi, bagaimana perjodohan yang baik ya melihat Kanjeng Nabi, bagaimana bergaul dengan orang tua melihat Kanjeng Nabi, bagaimana bergaul dengan anak muda melihat Kanjeng Nabi.

Semuanya tidak perlu membuka al-Quran dan tinggal melihat Kanjeng Nabi. Tapi kemudian tersirat pikiran waras saya, ya kalau saya ditakdirkan ikut Kanjeng Nabi. Kalau ternyata saya ditakdirkan ikut Abu Jahal?! Maka tak perlu melamun hidup di zaman Nabi. Kita hidup sekarang di zaman akhir seperti ini juga tidak apa-apa asal kita masih ikut dengan tuntunan Kanjeng Nabi.

Jadi semakin lama kita itu semakin sulit mencari contoh. Kalau kita rajin membaca al-Quran, mengerti maknanya al-Quran, maka tak mengapa bila kita tak usah cari contoh. Kita tidak perlu banyak contoh bila kita sudah rajin membaca al-Quran dan mengetahui makna al-Quran. Tapi yang terjadi; kita sudah tidak punya contoh, membaca al-Quran pun hanya ketika bulan Ramadhan, itupun bacanya ngebut.

Kenapa kalau membeli televisi atau sepeda motor kita tak perlu membaca buku panduannya? Padahal membeli barang-barang seperti itu pasti ada buku tebal sebagai panduannya: kalau mau menghidupkan, tekan tombol yang bertuliskan “power”; bagaimana caranya memindah channel. Tapi saya yakin, panjenengan itu beli tivi atau motor tanpa pernah membaca buku panduannya. Lha kok bisa tahu dari mana? Ya, karena panjenengan sudah sering melihat orang menghidupkan tivi.

Demikian juga dulu para sahabat. Meskipun tidak membaca buku panduan, tapi mereka melihat dan meniru Kanjeng Nabi. Sesudah Kanjeng Nabi tidak ada, ya harus melihat para sahabat sebagai murid-murid Kanjeng Nabi, dan seterusnya, sebagaimana diperintahkan oleh Kanjeng Nabi :

أصحابي كالنجوم، بأيهم اقتديتم اهتديتم

“Sahabat-sahabatku bagai bintang gemintang. Dengan siapapun diantara mereka kalian berpegang, kalian akan mendapat petunjuk.”

Demikian, semoga kita semua mendapatkan barokah Kiai Zainal, menjadi orang yang sholeh. (Ditranskip oleh KH. Hilmy Muhammad atas mauidzah KH. Musthofa Bisri (Gus Mus) Pesantren Roudhotut Tholibin Leteh Rembang, yang disampaikan dalam tahlilan almarhum KH. Zainal Abidin Munawwir di Krapyak Yogyakarta, Senin 17 Februari 2014 M./16 Robi’uts Tsani 1435 H. Sumber asal: http://www.santrijagad.org/search/label/Teladan).

Label: ,

Rabu, 23 April 2014

ISLAM; BERARTI WAJIB DAN BERTANGGUNG JAWAB MENEBAR KEDAMAIAN




Umat Islam adalah pihak yang paling berhak sekaligus paling berkewajiban menebarkan kedamaian. Akar kata Islam; ‘silm’, bermakna kedamaian. Dan upaya menebar kedamaian adalah termasuk jihad.

Perang (qitaal) hanya salah satu bentuk jihad dalam kondisi tertentu, tapi jihad tak melulu berarti perang. Karena makna jihad adalah perjuangan. Sedangkan perjuangan sangat luas ruang lingkupnya. Bukankah untuk bersabar pun butuh perjuangan? Menahan amarah lebih berat daripada melampiaskannya. Itulah perjuangan, jihad. Maka jihad perdamaian jauh lebih berat dan lebih patut diperjuangkan.

Pesan kedamaian Islam sangat jelas dalam sapaan doa umat Islam; Assalaamu’alaikum, semoga kedamaian bagimu. Begitupun dalam ayat pertama al-Quran: “Bismillaahirrahmaanirrahiim”, dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Kita adalah bentuk kasih sayang Tuhan bagi semesta alam.

Allaahumma Antassalaam; Duhai Allah, Engkaulah Kedamaian. Waminkassalaam wa ilayka ya’uudussalaam; Dan dari-Mulah kedamaian berasal serta kembali. Fahayyinaa Robbanaa bissalaam; Maka hidupkanlah kami bersama kedamaian. Wa adkhilnaljannata daarossalaam; Dan masukkan kami ke dalam surga, negeri kedamaian. Aamiin.

Itulah salah satu ujaran Maulana Wahiduddin Khan, pendiri Centre of Peace and Spirituality - India. (www.cpsglobal.org)

Sebelumnya, kita sudah pernah ‘kenalan’ dengan pandangan tokoh-tokoh internasional yang bergerak dalam upaya perdamaian, pendidikan dan kesejahteraan sosial. Seperti Said Nursi Badi’uzzaman (Pahlawan Turki), Fethullah Gulen Hojaefendi (Hizmet), Abu Anis Barkat Ali (Ihsan Foundation), Ali Zainal Abidin Al-Jufri (Tayba Foundation), Hamza Yusuf (Zaytuna College), Zaid Syakir (Radical Middle Way), Muhammad Tahir Ul Qadri (Minhaj Ul Quran), hingga tokoh kita kali ini, Wahiduddin Khan.

Gaya mereka sama, yakni:
1.      Kedalaman ilmu syariahnya.
2.      Berlatar belakang tasawwuf.
3.      Moderat, yakni berdiri di antara pengabaian (ignorance) dan berlebihan (extremism).
4.      Memulai pergerakannya secara sosial dengan membangun kesamaan visi bersama rekan-rekannya.
5.      Disamping keliling menyampaikan gagasan dalam orasi, seminar, ataupun diskusi, mereka juga menulis.

Nama-nama yang disebutkan di atas adalah para penulis handal yang menuangkan berbagai hal dalam kehidupan dari kacamata Islam. Sosial, politik, ekonomi, seni, budaya, lingkungan, spiritualisme. Ada yang ditulis sendiri, adapula yang ditulis secara transkripsi oleh murid-muridnya. Bagaimanapun, tulisan bisa lebih tajam dari pedang dan lebih awet dalam merekam ide dari sekedar ingatan, serta tentunya lebih mudah dijangkau kapanpun dimanapun.

Nah, bagaimana dengan kita di Indonesia? Mau mentranskrip teks-teks kesejukan dan pemikiran tokoh-tokoh ulama kita? (Ustadz Zia Ul Haq tegal: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=631547106919317).

Label: ,